Pulau Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sebuah “laboratorium pariwisata” dunia di mana kekayaan adat dan tradisi bertarung sekaligus berharmoni dengan gelombang globalisasi. Buku ini membedah anatomi sosial masyarakat Bali melalui lensa fungsionalisme klasik hingga teori sosial kontemporer yang kritis. Penulis mengajak pembaca menyelami bagaimana institusi fundamental seperti Subak, Banjar, dan Desa Adat tidak hanya menjadi penjaga irigasi atau ritual, tetapi berfungsi sebagai mekanisme checks and balances yang menjaga kohesi sosial di tengah tekanan pasar modal yang masif.
Melalui analisis yang tajam, karya ini menyingkap realitas di balik keindahan visual Bali: mulai dari fenomena komodifikasi seni yang menantang nilai kesucian (Taksu), hingga perjuangan komunitas lokal dalam mempertahankan kedaulatan atas ruang hidup dan identitas mereka dari ancaman desakralisasi dan alienasi lahan.
Diperkaya dengan perspektif filsafat Tri Hita Karana, buku ini menawarkan peta navigasi bagi pengelolaan pariwisata yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memuliakan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Sebuah literatur esensial bagi akademisi, praktisi pariwisata, dan siapa pun yang ingin memahami bagaimana sebuah peradaban kecil tetap berdaulat dan resilien di tengah arus disrupsi dunia modern.
| Detail Buku | |
| ISBN | 978-634-7407-93-1 |
| Penulis | Dr. Nyoman Gede Mas Wiartha, S.IPI., M.Par. Anak Agung Istri M. Septiviari, S.E., M.Pd. I Made Sucipta Adnyana, S.E., M.M. |
| Editor | Weni Yuliani, S.Si., M.M., C.Ed. |
| Penyunting | Aisyah, S.Sos. |
| Desain Sampul | Ringgalang Alfath Saksaky, S.IP. |
| Ukuran | A5 |
| Jumlah Halaman | 190 |
| Terbit | 2026 |






Ulasan
Belum ada ulasan.